Tampilkan postingan dengan label Wisata Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata Sejarah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 Mei 2014

Sejenak Jalan-Jalan Siang Ke Candi Penataran

Walaupun dekat dan sudah beberapa kali mengunjungi lokasi wisata ini, salah satu kompleks candi hindu terbesar di Pulau Jawa ini masih menyimpan cerita yang menarik untuk ditulis. Berikut catatan perjalanan saya di akhir Desember ke Candi Penataran. Sekitar pukul 08.00 WIB, saya berangkat dari kediaman setelah menjemput nyonya. Kali ini menggunakan sepeda motor seperti lazimnya short distance trip saya lainnya. Si nyonya saya ini (nama disamarkan,hehehe) semangat sekali jika diajak short distance trip seperti ini. Jadi jangan heran nongol di beberapa foto di posting- an kali ini. Cuaca cerah saat itu walaupun sudah memasuki musim penghujan. Oya, jika ingin ke Candi Penataran berkendaraan umum, ada angkutan umum warna kuning yang trayeknya melewati Makam Bung Karno jadi starting point anda dari lokasi wisata itu. Tapi sayangnya angkutan ini sudah mulai jarang karena banyak penumpangnya yang beralih ke sepeda motor. Tapi jangan khawatir, masih ada delman yang siap mengantar kesana. Delman-delman itu juga ngetem di sekitar Perpustakaan Bung Karno. Ongkosnya saya kurang begitu tahu namun jika melihat medan yang menanjak dengan jarak sekitar 11 km, angka Rp 150.000,- s/d Rp 200.000,- cukup masuk akal dibayarkan untuk delman berkapasitas 4-5 orang itu. Oke, kembali ke catper. Setelah setengah jam berkendara kami sampai di Candi Penataran. 

  
Tiket masuknya dihargai Rp 3000,-/orang. Sekilas sejarah Candi Penataran, candi ini ditemukan oleh Dr. Horsfield pada tahun 1815 seperti yang ditulis oleh Sir Thomas Stamford Raffles pada buku History Of Java. Candi ini dibangun secara bertahap mulai abad 12 s/d 15 M sehingga proses pendiriannya melewati tiga fase kekuasaan kerajaan yaitu Kediri, Singasari, dan Majapahit. Candi ini fungsinya sebagai tempat pemujaan. Hal ini dikuatkan dengan pernyataan pada prasati Negarakertagama yang menyebutkan bangunan suci Palah (Penataran) merupakan bangunan Dharma Ipas yaitu bangunan suci para Rsi Saiwa-Sugata yang didirikan di tanah wakaf sebagai tempat pemujaan. Oke, candi seluas 180 x 130 m ini dibagi menjadi 3 halaman utama. Halaman pertama tentu letaknya setelah pintu masuk. Setelah pintu masuk di sebelah pos informasi kami disambut oleh dua arca besar yang lazim disebut sebagai retjo penthung oleh masyarakat sekitar. 

Batur Pendopo
Gapura runtuh
Pintu masuk Bale Agung
Halaman satu ini cukup luas dengan fokus 2 tempat datar (batur) luas (sepertinya untuk tempat berkumpul) bernama Bale Agung & Batur Pendopo. Selain dua batur tadi, ada Candi Angka Tahun yang kondisinya masih cukup bagus dibanding candi-candi lain. Disebut candi Angka Tahun karena memiliki simbol angka tahun 1291 Saka atau sekitar 1369 M. 

Candi Angka Tahun
Candi Naga
Karena bangunannya lengkap, candi ini menjadi objek yang menarik sehingga harus antri untuk berfoto di dalamnya. Kami lewati saja kesempatan itu karena panas sangat menyengat dan lebih memilih berfoto di belakangnya saja. Memasuki halaman kedua, fokus utama adalah keberadaan Candi Naga tepat dibelakang Candi Angka Tahun. Tidak seperti candi pertama, Candi Naga berbentuk segiempat dengan permukaan datar diatasnya. Di sekitar Candi Naga, banyak ditemukan batur-batur kecil yang runtuh. Arca-arca kecil juga berdiri disitu namun sebagian besar kondisinya juga berupa reruntuhan. Mungkin ini efek letusan besar Gunung Kelud pada tahun 1990 yang letaknya memang tak begitu jauh dari kompleks Candi Penataran. Mungkin juga ulah-ulah jahil manusia. Memprihatinkan. Beranjak ke halaman ketiga ada 4 Candi Perwara di sekeliling candi induk. Candi-candi ini berukuran 3,5 x 3 m. Sedangkan candi induk berukuran 32,5 x 29, 5 x 7,5 dengan bentuk yang hampir sama dengan Candi Naga. Candi induk ini dibagi menjadi 2 tingkatan. Setiap tingkatan dapat dinaiki karena dihubungkan dengan tangga namun pengunjung harus berhati-hati karena tidak seperti candi budha, candi hindu tidak memiliki susunan batu di ujung tingkatan (fungsinya seperti pagar) sehingga  rawan terjatuh jika melamun.




(click to enlarge)
Di tingkatan teratas candi induk, kami dapat melihat seluruh area kompleks Candi Penataran termasuk kolam pertirtaan yang terletak di luar halaman ketiga dan dihubungkan dengan jalan setapak.

Kolam Pertitaan
Di kolam ini konon ada kepercayaan di hari-hari tertentu muncul ikan raksasa dari lubang di dinding kolam yang katanya jelmaan sing mbaurekso (yang berkuasa di Candi Penataran) namun hari itu saya tidak melihatnya. Hanya muncul satu ekor ikan koi dari dalam lubang tersebut. Terlihat cukup dramatis di tengah-tengah kumpulan ikan oscar hitam yang mendominasi populasi disana. Karena airnya yang sangat jernih, terlihat koin-koin yang dilemparkan pengunjung yang sepertinya menganggap kolam itu juga berfungsi sebagai sumur keberuntungan. 

Koi Sebatang Kara
Disamping itu air kolam ini juga dipercaya membuat awet muda bagi yang mempercayainya. Wallahualam. Setelah dari sini, seperti biasa kami beristirahat sejenak di warung-warung makan di pinggir kompleks Candi Penataran.Tak lama, kami segera beranjak keluar dan menuju ke lokasi wisata selanjutnya yang cukup alami namun sayangnya belum banyak diketahui orang : Wisata Alam Pacoh.=) 

Selasa, 02 Juli 2013

Candi Borobudur – Meet Jogjakarta (4-Habis)

Sekitar pukul 07:30, kami sudah terbangun dan segera mandi. Bergegas untuk menuju Terminal Jombor di daerah utara Jogja menggunakan sepeda motor. Hari ini sebenarnya kami ingin menuju ke Dieng Plateau di Kabupaten Wonosobo namun karena selepas maghrib ada pertandingan Indonesia vs Turkmenistan, kami urung melakukannya,hehehe. Terminal Jombor adalah terminal yang terletak di dekat Monumen Jogja Kembali. Terminal ini dapat dengan mudah dicapai oleh Trans-Jogja hampir semua koridor dengan tiket Rp 3.000,- saja. Lanjut. Tak berselang lama, kami sudah duduk di bus Jogja – Magelang seharga Rp 8.000,-. Oya, rombongan kami bertambah dengan Jo karena dia kebetulan sedang jam kosong kuliah. Setelah sempat ngetem sejenak Muntilan, akhirnya pada pukul 10:00 sampai juga di Terminal Magelang. Tiba di terminal, Gondhol segera ke toilet untuk melaksanakan kewajiban. Sembari menunggu, saya & Jo dihampiri calo yang menawarkan bus (lebih tepatnya mikrobus) ke Borobudur. Si calo merangkap kernet ini mengarahkan saya langsung ke mikrobusnya yang ternyata masih sepi penumpang. Ajakannya saya tolak (tunda lebih tepatnya) dengan halus karena masih menunggu Gondhol menunaikan kewajiban. Berapa menit kemudian si Gondhol muncul dan kami menuju Borobudur dengan mikrobus seharga Rp 5.000,- tersebut . Tanpa ngetem walaupun kondisi mikrobus saat itu masih lengang. Mungkin karena kondisinya bukan liburan sekolah. Hanya 20 menit waktu yang dibutuhkan untuk sampai di Terminal Borobudur, Magelang. Dari sini, Candi Borobudur masih berjarak sekitar 2,5 km. Dapat ditempuh dengan becak, delman, atau jalan kaki juga boleh. Sesuai kantong kita. Kami yang memang berkonsep low-budget memilih berjalan kaki di tengah panasnya cuaca Magelang. Lumayan membuat tenggorokan kering,hehehe. Sampai di pintu masuk, (seperti biasa) ada dua harga tiket yang tertera yaitu untuk wisatawan asing dan wisatawan lokal. Untuk wisatawan lokal seharga Rp 20.000,- sama dengan Candi Prambanan. Samar-samar (karena mata minus 2), ada papan petunjuk makanan dan minuman tidak boleh dibawa masuk. Tujuannya sebenarnya baik yaitu untuk menjaga kebersihan area candi dari sampah namun kami juga lapar,pak. Apa daya akhirnya, saya titipkan sebagian kecil makanan kami dan membawa masuk sisanya,hehehe. 


Selasa, 25 Juni 2013

Kompleks Candi Prambanan – Meet Jogjakarta (2)

Hari ini seperti yang telah dijadwalkan, kami akan mengunjungi Kompleks Candi Prambanan & Pantai Parangtritis. Kebetulan pagi itu, rekan saya yang berkuliah di Jogja (sebut saja Jo) sedang libur sehingga ada alat transportasi (motor) yang bisa kami gunakan,hehehe. Sebetulnya, ada niatan untuk mencoba bis Trans Jogja untuk menuju 2 destinasi tersebut namun karena lebih praktis, kami memilih motor saja. Sekitar pukul 8:30 kami, berangkat menuju Candi Prambanan.Cuaca cerah cenderung panas terik pagi itu. Dengan bekal Nokia Maps yang telah saya route ke arah Prambanan, perjalanan terasa cepat dan mudah karena rute telah diketahui. Deretan toko oleh-oleh khas Jogja seperti bakpia pathok berbagai nomorberada di hampir sepanjang jalan (Jl. Laksda Adi Sucipto – Jl. Raya Yogya-Solo) yang kami lalui. Jalanan cukup mulus dan kondisi lalu lintas lengang mengingat hari itu bukan hari libur panjang anak sekolah. Cuaca yang semakin terik mengundang kami mampir sejenak membeli logistik di salah satu minimarket. Perjalanan kami lanjutkan kembali dan sekitar pukul 09:30, kami sampai di area parkir Kompleks Candi Prambanan. 


Jumat, 21 Juni 2013

Dari Blitar Ke Jogja (Lempuyangan) – Meet Jogjakarta (1)

26 Juli 2011. Setelah berdiskusi panjang lebar dan akhirnya mengubah tujuan (tujuan awal adalah Bali,hehehe), saya dan rekan saya, Gondhol, memutuskan untuk berangkat menuju Jogjakarta. Daerah istimewa yang terletak di Jawa Tengah ini berhasil menggoda saya & Gondhol untuk berangkat menjelajahinya dengan segala keunikan wisata sejarahnya. 


Rabu, 10 April 2013

Jalan-Jalan Di Kompleks Makam-Museum-Perpustakaan Bung Karno

Hari minggu ini, teman saya dari Malang akan berkunjung ke Blitar dalam rangka reuni dengan beberapa teman lain. Nah, mumpung di Blitar makawajib berkunjung ke Kompleks Makam-Museum-Perpustakaan Bung Karno atau Ir. Soekarno, bapak proklamator kemerdekaan sekaligus presiden pertama kita. 




Saya sendiri sudah puluhan kali berkunjung kesini dan hal itu membuat saya diangkat menjadi guide oleh teman saya, hehehe.Ir. Soekarno, pahlawan besar bagi bangsa Indonesia ini lahir pada tahun 1912 dan wafat pada tahun 1970. Beliau dimakamkan di kota kecil di sebelah selatan provinsi Jawa Timur yaitu Kota Blitar. Makam beliau berdampingan dengan makam kedua orang tuanya yang wafat terlebih dahulu. Makam beliau sering disebut sebagai Makam Bung Karno.Makam ini berada dalam satu kompleks dengan museum & perpustakaan Bung Karno yang diresmikan pada tahun 2009. Kompleks Makam-Museum-Perpustakaan Bung Karno cukup luas. Terletak tidak jauh dari pusat kota Blitar. Jika dari arah Malang dengan menggunakan bus, turun saja di halte Herlingga. Dari situ berganti transportasi dengan becak seharga Rp 10.000,- s/d Rp 15.000,-. 
Tergantung negosiasi dan jangan setuju dengan harga diatas Rp 15.000,- karena dari halte ke kompleks wisata hanya sejauh 3 km dengan medan biasa. Jika dari halte  ingin berjalan, tinggal mengikuti jalan utama ke arah barat. Setelah kantor Rajawali TV ada belokan ke arah utara. Lurus hingga pertigaan Jl. Kalasan. Dari jalan tersebut,  tinggal lurus ke barat. Jika  menggunakan kereta api, turunlah di Stasiun Garum. Berganti dengan angkutan umum di depan stasiun seharga Rp 3.000,- dan turun di halte Herlingga. Dari tersebut  dapat mengambil rute jalan kaki atau dengan menggunakan becak.Lanjut,tidak sampai 5 menit saya dan teman saya akhirnya sampai juga di lokasi wisata ini karena memang dari rumah saya hanya berjarak 1 km saja, hehehe. Tidak ada biaya yang dipungut untuk masuk ke dalam area wisata ini bahkan untuk parkir di dalamnya. Pada pintu masuk utama di arah selatan, pengunjung akan disambut dengan patung perunggu Bung Karno setinggi hampir 4 meter dengan pose duduk sambil membaca buku. 
Di samping kiri & kanan patung ini,  ada pintu masuk ke dalam museum (kiri) dan ke dalam perpustakaan (kanan) 2 lantai. . Berhubung kompleks makam sedang mendapat kunjungan dari bapak Boediono (Bapak Wapres yang sedang mudik,hehehe) saat itu, kami tidak dapat masuk kedalam bangunan museum dan perpustakaan.Museum sendiri berisi barang-barang milik Bung Karno dan beberapa foto Bung Karno semasa hidup. Daya tarik utama museum ini adalah lukisan Bung Karno yang diklaim dapat “berdetak” dengan sendirinya sehingga banyak pengunjung yang menganggap museum itu seakan hidup. Lebih ke dalam, terdapat replika bendera pusaka yang dikibarkan pertama kali saat proklamasi kemerdekaan Indonesia.Selain itu, ada juga koper yang digunakan Bung Karno selama masa pengasingan. Selain itu pada galeri foto Bung Karno, banyak foto yang menampakkan betapa gigihnya beliau memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Museum ini lengkap dan sangat bernuansa Bung Karno. Di satu titik kita akan menemui akses menuju lantai 2 yang digunakan sebagai akses alternatif menuju perpustakaan namun sayangnya akses ini seringkali ditutup. Interiornya di dalam museum ini cukup nyaman dan jauh dari kesan seram layaknya kesan dari museum-museum di Indonesia. Sedangkan bangunan perpustakaannya memiliki koleksi buku tentang sejarah Indonesia yang diklaim paling lengkap disamping koleksi-koleksi buku lain seperti buku tentang teknologi, psikologi, dan sebagainya. Koleksi buku-buku sejarah diletakkan di lantai dasar sedangkan koleksi buku-buku umum diletakkan di lantai 2 bangunan yang terbagi menjadi bangunan barat dan timur yang dihubungkan sebuah jalan tembus layaknya jembatan. Perjalanan kami lanjutkan ke sisi barat museum dimana ada amphiteater dan gong perdamaian. Setelah jeprat-jepret sejenak, kami langkahkan kaki menuju gapura makam. Namun kami disuruh beberapa petugas untuk menunggu karena rombongan bapak Boediono akan segera meninggalkan makam. Sempat juga melambaikan tangan kepada bapak wapres tercinta. Hati-hati di jalan, pak. Semoga selamat sampai tujuan,hehehehe. Tak berselang lama tempat itu langsung dipenuhi pengunjung dari luar kota yang daritadi menunggu untuk masuk seperti kami. 
Niat kami untuk masuk ke makam kami urungkan karena hari sudah sangat sore dan didalam makam pasti tidak leluasa. Akhirnya cukup jeprat-jepret saja di sekitar area gapura makam dan halaman museum. Oya, di halaman museum terdapat beberapa relief yang menggambarkan kisah hidup Bung Karno semasa kecil hingga menjadi presiden RI yang pertama. Selain itu terdapat kolam ikan sebagai oase bagi beton-beton disekelilingnya. 
Overall, kompleks Bung Karno ini merupakan tempat yang indah. Selain itu, sampah dari pengunjung juga tidak berserakan sehingga kesan kumuh dapat terhindarkan. Pantaslah disebut sebagai destinasi wisata utama di Kota Blitar. Dan kunjungan kami di museum Bung Karno pun kami akhiri dengan bacaan “Alhamdulillah” dan segera menuju ke parkiran motor. J

Senin, 17 Desember 2012

Perhitungan Biaya (Backpacker) Ke Semarang & Ambarawa


Pada posting terdahulu, saya pernah menulis catatan perjalanan ala backpacker saya di seputar Semarang & Ambarawa. Berikut adalah rincian biaya ala saya selama menempuh perjalanan ini.Oya, rincian biaya yang saya susun akan lebih baik jika ditambahkan dengan biaya tak terduga dengan besaran yang kita tentukan sendiri. Semoga bias menjadi referensi yang berguna bagi anda yang ingin berlibur hemat tapi tetap nyaman dan membahagiakan ala backpacker.=).

Download file excelnya disini ---> --“

Minggu, 30 September 2012

Destinasi Ambarawa & Semarang (4-habis) : Berjalan Kaki (Kembali) Di Seputar Semarang

Sesuai dengan prediksi kami di awal, kami tiba di Semarang dalam waktu 30 menit. Kami turun di flyover Jl. Raya Kaligawe, di dekat lokasi Jamu Nyonya Meneer. Destinasi pertama kami adalah Masjid Agung Jawa Tengah yang terletak di sekitar kawasan Gajah. Kenapa disebut gajah??Karena selain jalan di area tersebut dinamai nama-nama binatang salah satunya gajah, berbagai toko di kawasan tersebut menambahkan kata gajah di belakang nama toko mereka, misal Warung Nasi Gajah, Toserba Gajah, dan sebagainya. Unik. Dri tempat kami turun dari bus antarkota, kami melanjutkan perjalanan dengan minibus, mirip kopaja di Jakarta. Tarif yang dipatok Rp 4.000,- saja. Sempat di-palakin pengamen(pengemis lebih tepatnya) juga yang memaksakan receh dengan membentak-bentak dan mendorong kantong uangnya ke badan kami berdua. Setelah diberi pun masih ngeyel minta rokok padahal kami tidak merokok. Akhirnya setelah 10 menit “kopaja” berjalan, kami tiba di depan pintu masuk Masjid Agung Jawa Tengah. Subhanallah. Masjid yang sangat besar dan megah. 

Di sepanjang pintu masuk akan ditemui 5 plakat di atas kolam yang berisi masing-masing lima rukun Islam. Dilanjutkan dengan gapura bergaya Arab dengan air mancur di tengahnya.  Beberapa komponen dari masjid ini menjadi landmark bagi Jawa Tengah khususnya Semarang. Enam payung raksasa yang dapat terbuka secara otomatis menjadi hal yang paling unik  dari masjid ini. Seperti payung raksasa yang digunakan di Masjid Nabawi di Mekkah. 

Di sisi lain, terdapat menara setinggi 19 lantai yang berfungsi juga sebagi museum sejarah Islam, resto putar, dan menara pandang. Di kanan kiri masjid terdapat dua gedung yang fungsinya seperti kantor dengan arsitektur yang senada. Kami segera beranjak menuju ke dalam masjid untuk sholat dan melepas penat sejenak. Udara yang cukup panas membuat kami berjingkat ketika memasuki area suci dalam masjid yang jaraknya masih sekitar 20 meter dari bangunan utama,hehe. Di dalam masjid cukup lengang karena saat itu memang belum masuk waktu sholat. Hanya ada beberapa pengunjung lokal berbincang –bincang santai di sekitar teras masjid. Masuk kedalam, interior masjid terasa klasik dengan sentuhan budaya Jawa. Strutur atap sebagian menggunakan kayu dipadu dengan beton dengan beberapa hiasan di area dinding. Di bagian basement, ada temat wudhu ang dilengkapi dengan kamar mandi. Ada juga tempat sholat di sini sebagai perluasan aula utama masjid namun terkesan gelap karena letaknya dibawah dengan sedikit pencahayaan. Di bagian depan pintu masuk, terdapat Al-Quran raksasa yang berukuran kurang lebih satu setengah meter lengkap dengan meja Al-Qur’an raksasa juga.Puas berkeliling, karena terasa lelah, saya dan kang Ari sempat terlelap sejenak sembari menunggu masuk waktu sholat Ashar. Kami dibangunkan oleh suara adzan sholat Ashar dan segera mengambil air wudhu. Setelah sholat, kami menyempatkan diri untuk mandi sejenak di kamar mandi masjid. Kami menyempatkan diri mencoba naik ke menara pandang. Dengan tiket seharga Rp 5.000,-, kita dapat menyaksikan kota Semarang dari ketinggian. Jika ingin lebih jelas, rogoh kocek sebesar Rp 2.000,- untuk menyewa teropong. 

Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan menuju Simpang Lima Semarang. Sebenarnya ada beberapa lokasi yang terlewat, seperti Pagoda Alokitsevara(begitukaah ejaannya??hehe...) namun waktu tidak mengijinkan sehingga lebih baik kami lewatkan saja. Dengan berjalan kaki, perjalanan sejauh 6 km ke Simpang Lima kami mulai. Rute yang kami lalui adalah Jalan Gajah-Jalan Majapahit-Jalan Ahmad Yani-Simpang Lima. Walaupun di GPS terasa dekat, tapi in fact tetap saja jauh seperti lari marathon apalagi dengan stamina yang tinggal separuh,hehehe.Tapi semangat kami masih penuh, jadi perjalanan harus tetap berlanjut. Jika anda ingin nyaman dan cepat sampai, ada alternatif lain yaitu menaiki bus Rapin Trans arah Simpang Lima. Bus ini seperti bus Trans-Jogja yang ada di daerah Jogja. Dengan tarif sekitar Rp 3.500,-, bisa berkeliling Kota Semarang. Akhirnya sekitar 2 jam perjalanan, kami sampai di Simpang Lima. 

Simpang Lima Semarang adalah kawasan alun-alun di tengah jalan bersimpang lima menuju Purwodadi serta Solo. Di beberapa sudut, terdapat deretan pedagang kaki lima yang menjual berbagai aksesoris dan nasi kucing dipadukan dengan  gemerlap lampu dari beberapa department store. Di area utama alun alun, banyak pengunjung yang berkumpul untuk sekedar ngobrol, makan, bermain roller blade, skuter, dan sebagainya. Suasana cukup ramai dan bemandikan lampu sehingga kesan gelap dan kumuh yang biasanya melekat pada alun-alun dapat terhindarkan. Sembari mengisi perut dengan dua bungkus nasi kucing, saya mengabadikan momen-momen tersebut. Yup, stamina telah terisi kembali. Perjalanan dilanjutkan menuju kawasan Lawang Sewu. Sekitar 3 km ke arah barat dari Simpang Lima. Dari sini kaki saya sudah mulai cenat-cenut karena sejak dari Solo kemarin kami memang ramah lingkungan (dan dompet) sekali dengan banyak berjalan, hehehe. Ah, tapi saya tahan saja karena semangat masih oke. Kami melewati Jalan Pandanaran, salah satu sentra oleh-oleh khas Semarang. Disini dapat ditemui berbagi macam makanan ikonik Semarang yaitu lumpia, wingko babat, bandeng presto, dan sebagainya. Setelah survey beberapa tempat, pilihan kami jatuh pada toko Bandeng Juwana karena dari depan terlihat paling ramai diantara yang lain. Segera kami memilih beberapa panganan untuk dibawa pulang. Saya sendiri memilih Tahu Serasi Bandungan, yang sebenarnya adalah makanan khas Ambarawa karena sudah cukup sering menerima oleh-oleh bandeng presto dan wingko babat dari beberapa kerabat. Selain itu, saya juga mengambil sekotak kue muaci/mochi Semarang. Kang Ari sendiri lebih memilih sekotak wingko babat dan sekotak Bakpia Pathok 25 yang sudah familiar di mata para pmburu oleh-oleh. Total harga keempat oleh-oleh tadi adalah Rp 119.000,-. 
 Kaki-kaki lelah kami segera berjalan kembali. Tidak jauh dari situ, terdapat Lawang Sewu. 
Kantor Pusat PT.KAI di masa kolonialisme. Bangunan tua yang arsitekturnya tetap terjaga khas Belanda. Memilikipilar-pilar besar yang beriringan dengan pintu-pintu yang jumlahnya konon ratusan. Aura Lawang Sewu yang mistis bercampur dengan megah membuat tempat itu ramai dikunjungi walaupun jam telah menunjukkan pukul 21.00. Rasa lelah mendera kami membuat taman kota di area Tugu Muda di depan Lawang Sewu menjadi tempat persinggahan selanjutnya. Tak berselang lama, kami memutuskan untuk segera menuju ke Stasiun Semarang Poncol agar kami bisa beristirahat lebih leluasa sembari menunggu datangnya kereta Kahuripan yang akan mengantar kami pulang beberapa jam lagi. Setelah deal dengan bapak tukang becak pada harga Rp 15.000,-, kami segera mengakhiri perjalanan menuju stasiun tersebut.  Semarang memang kota yang unik dengan arsitekturnya yang klasik bercampur modern dan masih terjaga dengan baik. Udaranya yang panas baik pada siang maupun malam hari tidak akan menghalangi niat kami untuk kembali ke sana pada lain waktu. Masih banyak lokasi yang layak untuk disinggahi. Maybe next time (again)!!!=)