Tampilkan postingan dengan label Rawapening. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rawapening. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 Desember 2012

Perhitungan Biaya (Backpacker) Ke Semarang & Ambarawa


Pada posting terdahulu, saya pernah menulis catatan perjalanan ala backpacker saya di seputar Semarang & Ambarawa. Berikut adalah rincian biaya ala saya selama menempuh perjalanan ini.Oya, rincian biaya yang saya susun akan lebih baik jika ditambahkan dengan biaya tak terduga dengan besaran yang kita tentukan sendiri. Semoga bias menjadi referensi yang berguna bagi anda yang ingin berlibur hemat tapi tetap nyaman dan membahagiakan ala backpacker.=).

Download file excelnya disini ---> --“

Selasa, 25 September 2012

Destinasi Ambarawa & Semarang (3) : Leyeh – Leyeh Di (Dekat) Danau Rawapening

Puas melihat-lihat di area Museum Kereta Api Ambarawa, perjalanan kami lanjutkan menuju ke  danau Rawapening yang terletak tidak jauh dari lokasi museum ini. Sebenarnya tujuan kami sebenarnya adalah Candi Gedong Songo yang terletak di daerah Bandungan namun karena waktu yang sudah beranjak menunjukkan pukul 11.15 dan transportasi umum yang ada hanya beroperasi hingga pukul 17.00, kami putuskan untuk menuju Rawapening. Setelah bernegosiasi dengan pengemudi delman di pintu masuk museum, maka kami deal dengan harga Rp 25.000,- menuju danau Rawapening. 
Berdasarkan informasi dri bapak pengemudi delman tersebut, di dekat danau dibangun lokasi wisata yang dilengkapi restoran apung sebagai pelengkap sembari menikmati keindahan Danau Rawapening. Kami pun mengamini ucapan beliau dan bergegas menuju kesana. Sekitar 15 menit kemudian kami sampai di tempat tujuan kami. Ternyata area ini terletak pas di pinggir Jalur Lingkar Yogyakarta-Semarang.Tiket masuk seharga Rp 2.000,- saja. Lokasi wisata ini masih dalam taraf pembangunan di beberapa bagian. Ada beberapa ATV yang disewakan namun sirkuitnya belum sepenuhnya selesai. Ada juga sepeda air dan perahu motor yang siap mengantarkan kita ke tengah Rawapening. Tempat ini cukup layak dinikmati untuk sekedar beristirahat. Kami sempat tidur sejenak di salah satu gazebo. Karena perut yang teras keroncongan, kami segera beranjak ke bangunan utama yaitu restoran apung untuk memesan makanan. Hmmm, menu yang ditawarkan beraroma seafood yang tentunya sedikit menguras kantong namun dengan berbagai pertimbangan maka menu seharga total Rp 23.000,- telah berpindah ke perut kami. 
Di sekeliling kampung apung, tersaji pemandangan yang cukup indah. Dari kejauhan tampak Gunung Merbabu menjulang dengan gagah diikuti gunung-gunung lain disekitarnya. Di bagian lain, tentu saja ada Danau Rawapening dihiasi dengan sekelumit rel kereta yang terhubung dari Stasiun Ambarawa. Walaupun area ini masih terasa gersang dan berdebu, namun terbayarkan oleh pemandangan yang cukup indah tersebut. Perjalanan pun berlanjut. Kami segera menaiki bus tujuan Semarang yang memang sering berhenti di depan pintu masuk kampung apung. Dengan karcis seharga Rp 4.000,-, kami diprediksi tiba di Semarang dalam 30 menit. Waktu saat itu menunjukkan pukul 13.30. Sepertinya waktu yang tepat untuk melanjutkan destinasi berikunya : Semarang!!!=) 

Selasa, 18 September 2012

Destinasi Ambarawa & Semarang (2) : Mengukir Jejak Di Ambarawa

Bus yang kami tumpangi perlahan melahap rute Solo-Ambarawa yang beraspal mulus dan sedikit berkelok dalam 3 kilometer terakhir sebelum terminal Bawen, suatu daerah di dekat Ambarawa. Sekitar pukul 06.30, kami pun sampai di Terminal Bawen. 
Karena perut terasa keroncongan, kami memutuskan untuk makan pagi di sekitar terminal. Semangkuk nasi campur telur dan koyor (kikil kata orang Jawa Timur) seharga Rp 7.000,- menjadi teman makan kami pagi itu. Tak lupa secangkir kopi panas sebagai penambah semangat. Udara Ambarawa pagi itu terasa sejuk dan sedikit berangin, khas musim kemarau. Sangat pas untuk berjalan kaki menuju tujuan kami sesuai rencana awal. Sempat ada dialog dari kang Ari dengan seorang penjaga terminal tentang rute dan kendaraan umum untuk menuju Museum Kereta Api Ambarawa. Bapak penjaga tersebut mengatakan banyak angkot yang menuju ke sana yang bisa dicarter seharga Rp 30.000,- namun angkot tersebut tidak bisa berhenti tepat di depan museum dan kita tetap perlu berjalan untuk sampai di tujuan. Akhirnya kami tetap memilih untuk berjalan saja. Jarak yang ditempuh (menurut GPS) sekitar 6 km. Kami pun segera bergegas menuju destinasi kami. Untuk pejalan kaki, sebenarnya medan yang dilalui tidak terlalu mulus. Trotoar yang ada seringkali putus berganti dengan jalan kerikil. Namun hal itu tak menyurutkan semangat kami. Rute yang kami ambil melalui rute normal melewati pasar hewan dan pasar tradisional Ambarawa. Ada juga rute baru melewati Jalur Lingkar menuju Yogyakarta yang masih berusia muda alias baru saja dibuka. Perbedaannya adalah jika kita melewati rute normal, masih banyak ”kehidupan”(rumah penduduk, toko, dan sebagainya) sedangkan jika melewati rute baru semua hal tersebut tidak ada namun sebagai gantinya kita bisa mengintip keindahan Danau Rawapening yang legendaries. Selang satu jam lebih kami berjalan, kami sampai di kota Ambarawa. Ketika melihat papan penunjuk jalan yang menginformasikan Museum Ambarawa ke sebelah kiri, kami segera mempercepat langkah kami. Monumen Palagan Ambarawa yang terletak di depan pertigaan jalan masuk menuju museum tidak luput dari bidikan kamera kami.Sekedar potret saja, jika masuk bayar Rp 4.000,-. Kami tidak memutuskan untuk masuk karena memang cuaca telah cukup terik dan lebih baik segera menuju ke museum. Sekitar 1,5 km kami berjalan sampailah kami di monumen lokomotif uap tua pada pintu masuk menuju museum. Tapi ada spanduk berisi himbauan yang sangat mengecewakan saya,”MOHON MAAF – SEMENTARA UNTUK WISATA DITUTUP – LOKASI MASIH DALAM PEMUGARAN”
Sial. Itu kata yang memenuhi hati kami berdua. Padahal ketika saya cek beberapa minggu sebelumnya pemugaran direncanakan selesai pada saaat memasuki bulan Ramadhan. Tapi apa hendak dikata. Untung saja wilayah museum masih bisa dimasuki pengunjung sehingga ada sedikit obat untuk kekecewaaan kami. Pelataran museum diisi berbagai tipe lokomotif yang telah dipensiunkan diantaranya adalah lokomotif uap tipe BB1012, B5210, B2014, B2220, dan sebagainya. Dari luar, lokomotif-lokomotif yang berusia kurang lebih satu abad tersebut masih tampak gagah layaknya ketika masih beroperasi dulu. Namun sayang, dari dalam banyak karat dan lubang-lubang yang disebabkan oleh faktor usia lokomotif tersebut. Overall, mayoritas lokomotif tersebut masih terawat dengan baik menurut saya. Langkah kaki kami dilanjutkan menuju ke dalam Stasiun Ambarawa. Dari depan, stasiun ini tampak seperti stasiun-stasiun lain di Indonesia yang senantiasa menjaga sisi arsitektur zaman penjajahan dulu. Interior stasiun ini masih terjaga dan utuh seperti sediakala. Selain itu, tempat ini sangatlah bersih (bersih juga dari pengunjung,hehehe....). 
Di rel utama museum ini terdapat lori wisata yang teronggok begitu saja. Lori tersebut tampaknya dalam keadaan rusak namun sedang menunggu giliran untuk masuk dipo perbaikan karena dipo perbaikan sedang penuh untuk memperbaiki kereta uap bertenaga kayu bakar dan beberapa gerbongnya. 
Di beberapa sisi terlihat beberapa pekerja sedang merenovasi beberapa bagian stasiun. Walaupun sedikit kecewa karena renovasi tersebut membuat stasiun ditutup sementara, setidaknya kami masih bisa berharap agar renovasi tersebut berjalan sesuai rencana dan menambah daya tarik museum kereta api tersebut. Di sisi dalam stasiun terdapat beberapa peralatan stasiun klasik seperti mesin pencetak tiket Edmonson yang baru pensiun sekitar 3 tahun lalu. 

Lalu ada juga roda bergerigi yang lazim digunakan di area rel tanjakan di masa lalu. Sebenarnya, ada beberapa benda lain yang terdapat di bagian bangunan utama museum ini, namun kami urung melihatnya karena pintu ke showroom museum ditutup. Kami segera menuju ke spot lain area Stasiun Kereta Api Ambarawa. Di dekat dipo pemugaran, terdapat rel putar yang dulunya lazim digunakan untuk menyesuaikan arah lokomotif. Rel ini diputar secara manual oleh beberapa orang dengan bantuan tuas kayu. Jika dibayangkan, petugas-petugas pemutar rel tersebut tentunya adalah orang-orang yang sangat kuat mengingat berat satu loko bisa mencapai beberapa puluh ton. 
Dari kejauhan, tampak beberapa gerbong yang sedang dipugar seperti yang kami bicarakan di awal. Tampaknya akan ada penambahan gerbong baru di rangkaian kereta klasik tersebut. Di dua rel lain, terdapat dua lokomotif yang sedang diperbaiki. Wajarlah dengan usianya yang uzur, perawatan lokomotif-lokomotif tersebut memang harus lebih sering dari biasanya agar kondisinya tetap layak jalan.  Semoga cepat selesai. Amien.