Tampilkan postingan dengan label Kawah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kawah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 12 September 2013

Backpacker Ke Kawah Ijen (Ijen Crater) - 2 : Goyang Dangdut Suhu 11°

Akhirnya kami berempat sampai juga di Paltuding. Sempat kaget juga begitu sampai di gerbang selamat datang ada spanduk bertuliskan “Kawah ditutup sementara untuk berbagai aktivitas  penelitian, pendakian,....”. Wah, apakah perjalanan sejauh ini sia-sia?. Ternyata tidak. Itu adalah spanduk yang sudah terpasang sejak 1,5 tahun yang lalu mengingat status kawah yang fluktuatif maka spanduk tersebut tidak dilepas demi alasan kewaspadaaan. Untunglah. 


Paltuding (click for larger image)
Di sekitar gerbang masuk banyak terparkir mobil-mobil pengunjung baik lokal maupun mancanegara. Sepertinya yang berkunjung ala backpacker (baca : menumpang truk belerang) hanya kami berempat saja,hehehe. Wisatawan banyak terlihat mulai mendaki ke kawah siang itu. Umumnya mereka adalah rombongan keluarga yang berencana untuk melihat kawah saja tanpa suguhan blue fire. Pilihan yang bijak karena mereka membawa anak kecil sehingga akan sangat riskan jika diajak mendaki pada dini hari dengan suhu dibawah 10° C. Karena tidak berencana mendaki siang itu, kami memilih beristirahat di saung yang banyak tersedia Paltuding. 

Ngaso dulu. Dari kiri : Kang Ari, Mas Harris, Evan, & Saya
Cukup nyaman walaupun saya tidak menemukan adanya lampu maupun stop kontak di saung tersebut. Sinyal HP pun sudah “terbunuh” sejak kami menjejakkan kaki di bak truk penambang belerang. Wajarlah karena tidak ada BTS disana. Selain itu, sumber listrik di Paltuding berasal dari generator yang dinyalakan selepas Isya hingga menjelang matahari terbit. Sungguh ironis mengingat Kawah Ijen adalah salah satu gunung dengan potensi panas bumi yang baik sehingga bisa diupayakan pembangkit tenaga listrik geothermal. Dengan perangkat telekomunikasi dan aliran listrik yang cukup, potensi wisata akan berkembang lebih maksimal. Semoga saja para pengurus kawasan wisata ini terus berbenah ditengah segala keterbatasan yang ada. Masih sekitar 15 jam lagi sebelum mendaki. Saya memutuskan untuk berkeliling Paltuding sembari menghabiskan waktu setelah sempat tertidur selama 1 jam. Paltuding ternyata tidak terlalu luas. Hanya ada 2 warung makan disini. Ada juga beberapa pondok sederhana yang dikelola Perhutani untuk disewakan kepada pengunjung.  

Evan di depan pondok yang juga merangkap kantor petugas
Rate-nya sekitar Rp 100.000,- s/d Rp 150.000,- per malam. Di dalamnya jangan bayangkan fasilitas layaknya hotel di kota, hanya ada kasur (ada tikar) dan lemari saja namun masih layak untuk menjadi tempat beristirahat. Di beberapa lokasi, saya juga menemui 2 villa kecil yang fasilitasnya tidak jauh berbeda. Di depan pintunya tertulis “No Rent”. Sepertinya telah dipesan jauh-jauh hari oleh pengunjung lain. Toilet dan mushola juga tersedia di Paltuding walaupun kondisinya memprihatinkan. Kiriman air yang kerap tersendat membuat Paltuding miskin air sehingga kedua fasilitas tersebut terbengkalai. Bisa berabe kalau ingin buang air besar,hehehe. Jadi bagi anda yang ingin berkunjung kesini, bersiaplah dengan segala kemungkinan,hehehe. Bergeser ke sebelah barat, saya menemukan camping ground seluas lapangan sepakbola dengan beberapa pondok di pinggir. 

Camping ground dengan kepulan asap kawah di belakangnya
Saya lalu bergeser ke utara. Disini saya menemukan jalan setapak menuju ke Kawah Ijen. Tertulis dari Paltuding menuju Ke Kawah Ijen sejauh 3 km. 


Jalan setapak itu terbelah menjadi dua ketika diamati dari arah sebaliknya. Jika lurus akan sampai ke arah gerbang masuk sekaligus keluar. Sedangkan belok kiri untuk menuju ke pos penimbangan belerang. Jalur yang terakhir inilah yang dilewati para penambang belerang yang legendaris itu. 

 

Kebetulan jalur ini melewati saung yang saya gunakan tadi jadi ketika saya kembali nanti kemungkinan besar bisa sekaligus mengamati aktivitas para penambang tersebut. Puas berkeliling, saya kembali ke saung untuk beristirahat. Tak lama terdengar suara decit bambu pikulan penambang lewat didepan saya. 


Sungguh suatu momen yang mengingatkan saya bahwa hidup itu perjuangan. Sekeras perjuangan telur burung untuk menetas atau disingkirkan dari sarang yang dibawa Viru Strasshbuddi di “3 Idiots”. Tak lama, saya pun terlelap kembali selepas menunaikan shalat dhuhur. Saya bangun sekitar pukul 3 sore. Daripada nganggur, kami ngobrol dengan bapak pengurus pondok. Beliau mengatakan sebaiknya kami menuju ke sumber air panas yang letaknya sekitar 2 km dari Paltuding. “Lumayan untuk menghabiskan waktu sembari hunting sunset yang indah”,begitu kata beliau. Namun kami memilih untuk tetap di Paltuding karena merasa masih lelah untuk berjalan kesana. Kami memilih narsis di gerbang masuk untuk menghabiskan waktu,hehehe.

 


Malam mulai menjelang. Suhu mulai terasa sangat dingin dan kami memutuskan untuk merapat ke Warung Bu Im untuk makan malam sekaligus menghangatkan diri di sekitar perapian. Semangkuk mi instan+telor seharga Rp 9.000,- menjadi teman perut kami. Dari dalam warung, terlihat wisatawan mulai banyak berdatangan. Kebanyakan dari mereka membawa sepeda motor dan sepertinya berniat mendaki pada dini hari seperti kami. Semakin malam justru semakin ramai.Jadi jangan bayangkan Paltuding saat itu sepi seperti di kuburan mengingat tempatnya di kaki gunung. Karena saat itu weekend, Paltuding tak ubahnya desa kecil yang sedang menggelar konser dangdut, K-O-N-S-E-R-D-A-N-G-D-U-T. Ternyata vila yang saya temukan tadi disewa oleh para pengunjung yang kebetulan (atau disengaja)membawa genset pribadi lengkap dengan peralatan karaoke untuk berkaraoke di Paltuding (baca : niat banget). ”Pengenku sms-an, wedi karo bojomuuuuu....”sepenggal lirik lagu dangdut Jawa Timur-an yang tak henti-hentinya dinyanyikan oleh para pengunjung yang bersangkutan. Nampaknya Kawah Ijen tak mau kalah dengan Gunung Bromo untuk masalah “festival” musik. Jika di Bromo ada Jazz Gunung, di Kawah Ijen ada Dangdut Gunung, hehehe. Cukup lama kami di dalam warung sebelum menuju saung untuk membuat api unggun. 11° C adalah suhu yang tercatat di termometer malam itu. Bahkan kata Bu Im sebelumnya, suhu selepas jam 12 malam bisa drop hingga dibawah itu. Sempat berpikir jika di Paltuding saja suhunya sedingin itu, apalagi di sekitar Kawah Ijen. Ah, sudahlah. Optimis dan nikmati saja,hehehe. Ketika api unggun mulai padam sekitar pukul 01:00 WIB dan (masih) diiringi alunan lagu dangdut Jawa Timur-an, kami berempat mulai bergerak menuju ke Kawah Ijen.=)

Minggu, 08 September 2013

Backpacker Ke Kawah Ijen (Ijen Crater) - 1 : Perjalanan Panjang Malang – Banyuwangi - Paltuding

Kawah Ijen, suatu danau asam berwarna hijau yang telah berhasil memikat hati banyak wisatawan mancanegara untuk berkunjung ke Indonesia akhirnya saya datangi juga pada tanggal 23 -25 Agustus 2013. Alhamdulillah, setelah saya posting Next Trip di forum BackpackerIndonesia sekitarbulan Juli, ada beberapa orang berminat untuk bergabung dan akhirnya terkumpulah 4 jejaka untuk pergi kesana yaitu saya, Ari, Mas Harris, dan Evan. Dunia ini sempit. Mas Harris yang notabene baru saya kenal via forum, ternyata satu kantor dengan sobat kuliah saya yang pernah nongol di posting-an backpacker ke Gunung Bromo (2011), si Sigit. Mas Harris bersama Evan juga indekost di daerah yang sama bahkan beda satu gang dengan indekost saya. Jika masih kurang sempit, Mas Harris ternyata juga almamater Politeknik Negeri Malang dengan jurusan yang sama dengan saya namun dengan tahun angkatan yang berbeda. Sempit sekali dunia ini ternyata,hehehe. Oke, kembali ke topik utama. Setelah meeting point di Stasiun Malang Kotabaru, segera saja kami naik kereta api Tawangalun tujuan Malang – Banyuwangi seharga Rp 50.000,- (per 1 September turun menjadi Rp 33.000,-) yang telah kami pesan jauh-jauh hari. Sekitar pukul 15:00 wib, kereta mulai bergerak meninggalkan stasiun dan perjalanan panjang pun dimulai. 


Dibutuhkan waktu sekitar 8 jam untuk sampai ke Banyuwangi. Untungnya kereta saat itu cukup lengang sehingga banyak tempat untuk meluruskan kaki atau bahkan tidur. Rencananya kami akan langsung naik ke Paltuding (Sosog) begitu sampai di stasiun Karangasem, Banyuwangi karena kata teman saya di Terminal Sasak Perot (sekitar 2 km dari stasiun Karangasem) banyak pick up yang stand by untuk mengantar wisatawan menuju Paltuding. Bagi yang belum paham, Paltuding atau Sosog adalah pos terakhir yang bisa disinggahi kendaraan sebelum perjalanan ke Kawah Ijen dilanjutkan dengan berjalan kaki. Paltuding dapat dicapai dari 2 desa terdekat dari Kawah Ijen yaitu Sempol, Bondowoso dan Balungbendo, Banyuwangi. Dari Sempol, setahu saya hanya ada ojek dan truk karyawan kebun kopi yang bisa ditumpangi untuk menuju Paltuding dan jaraknya lebih jauh. Jika dari Balungbendo, (jalur yang saya ambil), ada banyak pilihan untuk mencapai Paltuding yaitu truk belerang, hardtop/trooper, ojek, dan pick up. Jaraknya juga lebih dekat hanya sekitar 40 menit perjalanan dengan jarak sekitar 17 km. Untuk lebih jelasnya, ikuti terus catatan perjalanan saya. Sekitar pukul 22.30, kami sampai di Stasiun Karangasem, Banyuwangi. Beruntung bagi kami, Freddy, teman Evan yang tinggal di Banyuwangi bersedia mengantarkan kami ke Terminal Sasak Perot. Sebelumnya, kami sempat ditraktir makan ayam penyet oleh Freddy. Di warung tersebut Evan sempat bertanya tentang kendaraan umum menuju ke Paltuding kepada empunya warung. Kata beliau kendaraan umum menuju kesana jumlahnya sedikit karena banyak orang beralih membeli motor pribadi. Beliau juga mengatakan lebih baik sewa trooper saja atau membawa kendaraan pribadi kesana. Namun harga sewa trooper yang mencapai Rp 500.000,-/mobil membuat kami keukeuh pada rencana awal. “Meragukan,mas di Erek-Erek lak pake mobil itu”, sahut beliau ketika Evan bertanya apakah mobil Toyota Corolla Freddy bisa dibawa hingga Paltuding disambut gelak tawa kami berlima,hehehe. Kata bapak itu, Erek-Erek adalah nama tanjakan berkelok yang kemiringannya mencapai 30® dengan jalur yang hanya cukup untuk satu truk jadi mobil harus benar-benar waspada jika berpapasan dengan truk belerang atau mobil lain ketika melewati tanjakan ini. Jadi lebih baik menggunakan mobil minimal sekelas Isuzu Panther untuk dapat naik kesana. Setelah makan, kami berangkat ke Terminal Sasak Perot namun sampai disitu ternyata sepi. Tidak ada kendaraan umum sama sekali. Oleh beberapa warga kami disarankan untuk melanjutkan perjalan keesokan paginya. Akhirnya, perjalanan kami pun tertunda. Oleh Freddy, kami ditawari menginap di rumahnya sebelum keesokan paginya melanjutkan perjalanan. Tak menolak, malam itu kami menginap di rumah Freddy. Alhamdulillah, terima kasih, Mas Freddy,hehehe. Paginya, kami segera menuju Terminal Sasak Perot untuk menumpang angkot menuju ke Paltuding.

Terminal/pertigaan Sasak Perot

Nah, kami baru tahu ternyata angkot di Banyuwangi ada 2 macam. Angkot kuning dengan model kendaraan Suzuki Carry dan angkot model pick up dengan bak terbuka maupun ditutup terpal. Nah, angkutan yang menuju ke desa Balungbendo adalah angkot yang terakhir disebut. 

Suasana di dalam angkot..
Setelah bernego, kami diantar hingga pertigaan Jambu dengan ongkos Rp 15.000,-. Pertigaan Jambu adalah pertigaan yang letaknya diatas desa Balungbendo, tepat sebelum pintu masuk kawasan wisata Kawah Ijen. Sebelum pertigaan Jambu, kita akan menjumpai pabrik pengolahan belerang pertama di daerah Blambangan / Licin. Jika ke arah sebaliknya, kita akan menjumpai pabrik pengolahan belerang kedua di Tamansari. Kami sampai di pertigaan Jambu sekitar pukul 09:00 pagi. Sempat “ditawari” untuk mencarter pickup dan ojek bahkan trooper oleh beberapa orang disitu namun kami tetap keukeuh (kembali)bertahan untuk menumpang truk belerang yang akan lewat. Maklum jiwa backpcker,hehehe. Tak lama ada truk penuh dengan penambang lewat dan kami segera menumpang keatas. Didalam truk kami ngobrol dengan para penambang yang usianya rata-rata sudah mulai uzur. Kata mereka jumlah penambang sekarang semakin sedikit. 


Kebanyakan memilih bekerja di kebun kopi dan jahe karena fisik mereka tidak kuat. Hal itu membuat armada truk dikurangi dari 4 unit menjadi hanya 2 unit karena jumlah belerang yang ditambang juga menjadi sedikit. Wajar juga jika melihat fakta bahwa belerang yang mereka pikul dari Kawah Ijen ke Paltuding (ada pos penimbangan belerang) beratnya mencapai 70 kg tentu membutuhkan fisik yang luar biasa. Belum lagi mereka harus dua hingga tiga kali bolak-balik dari kawah ke Paltuding untuk mendapatkan penghasilan yang layak. Hal ini juga membuat jadwal keberangkatan truk dikurangi menjadi hanya 2 kali. Truk berangkat dari Tamansari ke Paltuding lewat Jambu pada pukul 07:00 WIB dan 09:30 WIB. Sedangkan pada siang hari truk akan kembali ke Tamansari atau Blambangan pada pukul 11:30 WIB dam 14:00 WIB. Jadwal kembali ini bisa berubah-ubah karena truk akan menunggu hingga belerang terisi sekitar 100 pikul (sekitar 7 ton) belerang untuk kembali ke pabrik.  Sepanjang perjalanan, truk seakan tidak pernah pindah dari gigi 1 dan 2 karena jalanan hampir selalu menanjak. Di kanan kiri jalan, hanya ada hutan dengan vegetasi yang lebat dan pohon-pohon yang cukup tinggi. Menandakan bahwa ekosistem hutan ini masih terlindungi dengan sangat baik. Jika melihat kebelakang, akan terlihat dermaga penyeberangan Ketapang dan tentu saja, pulau Bali. Walaupun akan sangat gelap ketika malam tiba, pemandangan jalan saat itu cukup melepas penat kami setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh. 

Truk yang kami naiki berhenti di depan pos penimbangan belerang

Sekitar 40 menit kemudian, kami sampai di Paltuding. Setelah membayar ongkos menumpang Rp 5.000,-, kami segera menuju pos pendakian Paltuding. =)

Selasa, 29 Januari 2013

Perhitungan Biaya (Backpacker) Ke Gunung Bromo Via Probolinggo


Beberapa hari yang lalu (15-16 Januari 2013) saya dan rekan saya berlibur ke G. Bromo (kembali) dengan biaya yang mungkin bisa disebut ala backpacker.Walaupun meeting point kami di Malang, namun kami memilih jalur Probolinggo karena lebih enak dilalui dan banyak pilihan transportasi daripada jalur Malang yang sebenarnya lebih dekat.Berikut adalah rincian biaya ala saya selama menempuh perjalanan ini.Oya, rincian biaya yang saya susun akan lebih baik jika ditambahkan dengan biaya tak terduga dengan besaran yang kita tentukan sendiri. Semoga bisa menjadi referensi yang berguna bagi anda yang ingin berlibur hemat tapi tetap nyaman dan membahagiakan ala backpacker.=).

Klik view image agar rincian biayanya terlihat,hehehe. Download file excelnya disini---> --“

Rabu, 30 Mei 2012

Uniknya “Anak” Gunung Di Tengah Gunung Kelud

Gunung Kelud adalah satu dari sekian banyak gunung berapi aktif yang terdapat di wilayah Indonesia. Terletak di dua wilayah kabupaten yaitu Blitar dan Kediri daerah Jawa Timur. Gunung ini terakhir meletus pada tahun 1990. Letusan yang terjadi saat itu mengakibatkan terbentuknya danau vulkanik berwarna hijau tosca yang cukup indah. Banyak wisatawan yang berkunjung kesini untuk menikmati keindahan danau tersebut.
Anak Kelud
Pada tahun 2006, saat pertama kalinya saya menginjakkan kaki disana. Mungkin itu juga pertama kali  dan terakhir kalinya bagi saya untuk menikmati keindahan danau tersebut. Karena pada tahun itu,beberapa bulan setelah kunjungan saya,  gunung ini menunjukkan gejala untuk meletus. Level gunung Kelud telah dinaikkan hingga status dapat meletus kapan saja. Namun letusan itu tidak terjadi hingga kini karena muncul fenomena unik berupa gundukan material vulkanik padat yang muncul menutupi danau vulkanik di tengah gunung ini. Material ini sepertinya berfungsi sebagai sumbat yang mencegah letusan terjadi. Berangsur-angsur setelah itu, status Gunung Kelud diturunkan ke level aman. Namun, konsekuensi dari munculnya material padat yang biasa disebut “ Anak Kelud” oleh masyarakat setempat tersebut adalah hilangnya danau vulkanik tadi. Layaknya Gunung Anak Krakatau di wilayah Selat Sunda, material ini tumbuh secara periodik. Hal ini mengundang saya untuk kembali ke Gunung Kelud untuk menikmati fenomena unik ini. Sekitar 7 kali saya mengunjungi Gunung Kelud pasca munculnya “Anak Kelud” karena ajakan teman-teman saya yang membutuhkan guide ke sana,hehehe. Kunjungan terakhir saya sekitar bulan Februari 2012.  Saya berangkat sekitar pukul 09.30 WIB dengan menggunkan sepeda motor. Rute yang saya lewati adalah Kota (Blitar) – Tanggung – Ngoran/ Nglegok – Ngancar – Kelud. Ada rute lain yang bisa dilewati yaitu dari arah Kediri – Wates – Ngancar. Tergantung darimana start point anda. Selain rute tersebut, rute-rute alternatif banyak ditemukan namun kadang kondisi jalannya tidak selayak dua rute tadi. Ada baiknya juga untuk membawa atau menyewa mobil ataupun motor karena minimnya transportasi umum untuk akses langsung ke Gunung Kelud.Sekitar pukul 10.30 WIB , saya sampai di Rest Area Gunung Kelud. Disini kita akan menjumpai loket pembelian karcis. Harga karcis yang dipatok sekitar Rp 5000 (klo tidak salah,hehe). Puncak Gunung Kelud berjarak sekitar 15 km dari rest area dengan medan yang tidak jauh beda dengan jalanan Gunung Bromo, berkelok-kelok dan turun naik. Di sepanjang perjalanan kita akan disuguhi pemandangan yang indah kahs dataran tinggi yaitu perbukitan dan deretan pohon yang memanjakan mata. Sepanjang jalan ini juga terdapat beberapa pos peristirahatan, penjual bensin eceran, dan tukang tambal ban. Tak lama akhirnya kami sampai di area parkir gunung ini.
Area Parkir
Fasilitas area parkir ini antara lain mushola, warung-warung, dan kamar mandi, fasilitas standar sebuah area parkir. Di sebelah area ini, dapat kita temui arena flyng fox yang cukup menantang. Rp 20.000,00 cukup untuk sekedar meningkatkan adrenalin dengan mencoba permainan ini. Merasa tidak berduit, langsung saja saya bergegas menuju ke site anak Kelud,hehehe. Terowongan gelap sepanjang beberapa puluh meter akan menyambut kita sebelum mencapai site tersebut. Ada baiknya kita membawa senter. Di ujung terowongan, ada tiga jalan yang bisa ditempuh. Jalan ke kanan adalah jalan bagi para climber untuk mendaki ke puncak Kelud yang saya sebut “Red Cliff” karena memang warna puncak tersebut merah bata. 
"Red Cliff"
Jalan lurus akan menuntun kita menuju anak Kelud dengan pemandangan arah horizontal. Kita dapat merasakan bau belerang yang sangat menyengat dan suara air kawah yang mendidih. Jika memilih jalur kekanan kita akan menemui anak tangga menuju menara pandang, spot terbaik untuk menikmati pemandangan sekitar Gunung Kelud & Anak Kelud tentunya. Saya lebih memilih jalur kanan karena memang tak lengkap rasanya ke Kelud tanpa mencapai menara pandang. Ada sekitar 800-an anak tangga yang perlu didaki jadi air mineral memegang peranan penting disini. Oya, sebelum memasuki teowongan ada jalur ke kanan menuju pemandian air panas. Pemandian ini sebenarnya kurang terawat dengan baik, namun airnya cukup bersih sehingga tidak ada salahnya untuk dicoba. Untuk selanjutnya biarlah foto saya yang menjelaskan kepada anda,hehehe. Sekedar saran, waspadai area-area dimana kerap terjadi longsor ketika menempuh perjalanan pulang. Karena gunung Kelud memiliki karakteristik yang berubah dengan cepat, segera tinggalkan site sebelum pukul 16.00 WIB. Enjoy=)  


Narsis Ujung Terowongan,hehehe

Beuty Of Kelud =)

Small step for another big steps - completely tired!!!hehehe...
Fotografer kite narsis juga,hehehe..

Enjoy =)